Loading...

Carmen LaBohemian - My Bad Professor

Carmen LaBohemian - My Bad Professor
Carmen LaBohemian - My Bad Professor
Bagi Hannah, Archer Holt adalah dosen dingin yang harus dijauhi karena pria itu sepertinya sangat membenci semua makhluk bernama wanita. Walaupun tidak bisa dipungkiri, penampilan pria itu bisa membuat wanita mana saja meleleh. Tapi ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa dia akan gagal dalam kelas sejarah pria itu, Hannah tidak punya pilihan selain mendatangi sang dosen killer itu.

Bagi Archer Holt, julukan sebagai dosen dingin pembenci wanita adalah pelindung yang disematkannya untuk melindungi dirinya dan para mahasiswinya. Namun terkadang, peraturan itu dibuat justru untuk dilanggar. Dia tidak ingin terlibat jauh dengan mahasiswinya, namun Hannah Tyler adalah gangguan yang sulit untuk dihilangkan. Well, daripada mencoba lari dari kenyataan, kenapa dia tidak mulai menghadapinya?

Kalau kau ingin memperbaiki nilaimu, hanya itu satu-satunya cara yang kutawarkan...

Tere Liye - Komet Minor

Tere Liye - Komet Minor
Tere Liye - Komet Minor


Pertarungan melawan si Tanpa Mahkota akan berakhir di sini. Siapa pun yang menang, semua berakhir di sini, di Klan Komet Minor, tempat aliansi Para Pemburu pernah dibentuk, dan pusaka hebat pernah diciptakan.

Dalam saga terakhir melawan si Tanpa Mahkota, aku, Seli, dan Ali menemukan teman seperjalanan yang hebat. Bersama-sama kami melewati berbagai rintangan, memahami banyak hal, berlatih teknik baru, dan bertarung bersama-sama.

Inilah kisah kami. Tentang persahabatan sejati.

Tentang pengorbanan. Tentang ambisi.

Tentang memaafkan.

Namaku Raib, dan aku bisa menghilang.

Buku keenam dari serial “BUMI”

Aditamasa - Crazy Boss

Aditamasa - Crazy Boss
Aditamasa - Crazy Boss
Hobi membaca membuat Fika menjadi suka menulis. Tapi, tulisan yang ia buat tak wajar karena ia menjadikan Cello, bos di kantornya menjadi tokoh utama di cerita yang ia buat hanya untuk sekedar lelucon. Setiap hari Cello pun jadi bahan candaan Kubikel Squad (grup temen dekat Fika). Pada suatu hari, Cello pun mengetahui hal tersebut. diam-diam ia membaca tulisan absurd Fika tersebut. Sejak itu hidup Fika berubah total.

Carmen Labohemian - Master

Carmen Labohemian - Master
Carmen Labohemian - Master
Dulu, kupikir semua kegagalanku dalam hubungan dengan lawan jenis adalah kesalahanku. Aku selalu berpikir ada sesuatu yang sangat dalam diriku, sesuatu yang membuatku selalu merasa tidak puas dengan setiap hubungan yang aku jalani. Aku bahkan berpikir mungkin aku adalah salah satu yang tidak beruntung, yang tidak akan pernah menemukan pasangan yang cocok.

Lalu, aku menemukannya. Pria yang pada akhirnya berhasil menggetarkan jiwaku, pria yang sukses menunjukkan padaku apa yang selama ini tak pernah kutahu aku dambakan. Pria yang berhasil mengisi ruang kosong dalam hidupku seperti kepingan puzzle yang lama hilang.

Pria itu yang kemudian kusebut sebagai... MASTER. And for him, i just want to be a good pet. Because i know, he will make my life better.

Asri Tahir - Not A Perfect Wedding

Asri Tahir - Not A Perfect Wedding
Asri Tahir - Not A Perfect Wedding
Raina Winatama: Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya.

Prakarsa Dwi Rahardi : Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi aku harus pergi untuk selamanya.

Pramudya Eka Rahardi : Di hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi.


Editor’s Note
Pernikahan yang indah adalah impian setiap orang di dunia ini. Tapi bagaimana jadinya kalau akhirnya Anda harus menikah dengan orang yang sebelumnya bahkan tidak pernah Anda temui?

Not A Perfect Wedding menghadirkan fakta bahwa belajar mencintai adalah satu-satunya cara. Tidak ada yang tidak mungkin. Ketulusan seseorang akan mengalahkan kekerasan hati, ketulusan dan cinta akan membalut luka dan menyembuhkannya. Not A Perfect Wedding akan menunjukkan caranya bagi pembaca.

Alnira - Friendzone

Alnira - Friendzone
Alnira - Friendzone
Kata ‘friendzone’ tidak ada dalam kamus seorang Andira Ramadhani, apalagi dia dan keempat sahabatnya yang lain sudah membuat perjanjian untuk tidak saling jatuh cinta. Namun, kedekataan dan kenyamanan yang terjalin membuat hatinya berubah. Dira mencintai sahabatnya sendiri. Saat dia berusaha untuk menghilangkan perasaan cintanya, cowok yang ditaksir Dira malah selalu bertingkah aneh, dengan mengeluarkan kode-kode yang membuat Dira menebak-nebak tentang perasaan cowok itu padanya. Namun, ketika Dira berharap perasaanya berbalas, cowok itu malah menghilang tanpa kabar.

Aqessa Aninda - Satu Ruang


Aqessa Aninda - Satu Ruang
Aqessa Aninda - Satu Ruang


Kinan mungkin sedikit berbeda dengan tipe perempuan kesukaan Satrya. Gadis itu terlalu lembut, terlihat rapuh, dan sedikit tertutup. Mata kenarinya yang senantiasa menghipnotis sering kali dirundung awan kelabu.

Sementara Sabrina mengingatkan Satrya pada sebuah sosok dari masa lalu. Gadis itu penuh semangat, humoris, dan baik hati. Matanya begitu hidup setiap kali ia menceritakan hal yang ia sukai.

Dengan Kinan, Satrya seperti bercermin. Dengan Sabrina, rasanya hari-harinya menjadi lebih cerah.

Ini adalah bagian pertama dari kisah klasik di antara 4 orang yang saling mencari, ada 3 pintu yang terketuk, 2 orang yang kehilangan dan terjebak dengan bayangan masa lalu, serta 1 pertanyaan tentang berbagi ruang.

"Kalau memang benar perasaan ini namanya sayang, kenapa menyayangimu rasanya begitu menyesakkan?"


Lara Jean - Always And Forever

Lara Jean - Always And Forever
Lara Jean - Always And Forever
I LIKE TO WATCH PETER when he doesn’t know I’m looking. I like to admire the
straight line of his jaw, the curve of his cheekbone. There’s an openness to his face, an
innocence—a certain kind of niceness. It’s the niceness that touches my heart the most.
It’s Friday night at Gabe Rivera’s house after the lacrosse game. Our school won, so
everyone is in very fine spirits, Peter most of all, because he scored the winning shot. He’s
across the room playing poker with some of the guys from his team; he is sitting with his
chair tipped back, his back against the wall. His hair is still wet from showering after the
game. I’m on the couch with my friends Lucas Krapf and Pammy Subkoff, and they’re
flipping through the latest issue of Teen Vogue, debating whether or not Pammy should
get bangs.
“What do you think, Lara Jean?” Pammy asks, running her fingers through her carrot-
colored hair. Pammy is a new friend—I’ve gotten to know her because she dates Peter’s
good friend Darrell. She has a face like a doll, round as a cake pan, and freckles dust her
face and shoulders like sprinkles.
“Um, I think bangs are a very big commitment and not to be decided on a whim.
Depending on how fast your hair grows, you could be growing them out for a year or
more. But if you’re serious, I think you should wait till fall, because it’ll be summer before
you know it, and bangs in the summer can be sort of sticky and sweaty and annoying. . . .”
My eyes drift back to Peter, and he looks up and sees me looking at him, and raises his
eyebrows questioningly. I just smile and shake my head.
“So don’t get bangs?”
My phone buzzes in my purse. It’s Peter.
Do you want to go?
No.
Then why were you staring at me?
Because I felt like it.
Lucas is reading over my shoulder. I push him away, and he shakes his head and says,
“Are you guys really texting each other when you’re only twenty feet away?”
Pammy crinkles up her nose and says, “So adorable.”
I’m about to answer them when I look up and see Peter sweeping across the room
toward me with purpose. “Time to get my girl home,” he says.

Yuli Pritania - 2060 When The World Is Yours

Yuli Pritania - 2060 When The World Is Yours
Yuli Pritania - 2060 When The World Is Yours
2060... saat manusia tidak lagi mengeluarkan tenaga mereka untuk melakukan hal-hal
rendahan semacam mengurus rumah tangga.
Hei, menurutmu untuk apa android dalam wujud manusia iti diciptakan?
Dan jenis-jeniz alat komunikasi terbaru yang membuat siapapun terperangah kagum.
Jangan harap menemukan surat yang dikirim lewat pos sepertiyg masih terjadi 50 tahun yg
lalu.
HP, terakhir kali digunakan 30 tahun yg lalu sudah dijadikan barang antik dan kuno
sekarang.
Diumumkan lebih tepatnya.
Sebagai gantinya, communiator menjadi pilihan paling tepat.
Banyak hal yg tidak pernah kau bayangkan sebelumnya terealisasi tahun ini.
Siapa sangka Korea Selatan bisa menjadi negara kedua terkaya dan paling berpengaruh
dunia setelah Amerika Serikat?
Siapa sangka bahwa Korea Selatan-lah negara pertama yg menciptakan android yg nyaris
sempurna seperti menusia?
Android adalah robot manusia yg berperan besar dalam pekerjaan rumah tangga beberapa
tahun terakhir. Bentuk dan cara bergerak robot ino tak ubahnua seperti manusia yang
membrdakan hanyalah bahwa robot ini tidak bernafas, tidak makan dan tidak butuh
istorahat seperti manusia pada umumnya.
Selebihnya nyaris tidak ada pembeda antara mahluk ciptaan dam mahluk penciptanya ini.
Biasanya dipergelangan tangan android melingkar sebuah gelang emas putih dengan label
nama masing-masing.
Mesin yg menggerakkan android bertahan selama satu tahun penuh dan setelah itu harus
diisi ulang dengan tenaga baru.
Penemuan robot ini menjadi gebrakan paling besar abad ini.
Karena itulah Korea Selatan menjadi negara yg sangat berpengaruh didunia, ditambah
dengam isu bahwa akan diluncurka mobil terbang sebagai kejutan awal tahun.
Pencetus terciptanya android, Cho Corporation, menjadi perusahaan dengan pengjasilan
terbesar didunia selama 8 tahun terakhir.

Yuli Pritania - 2060 When The World Is Yours section 2

Yuli Pritania - 2060 When The World Is Yours section 2
Yuli Pritania - 2060 When The World Is Yours section 2
Kyuhyun's Home, Yeoju, South Korea
08.00 AM
Hye Na membuka matanya perlahan dan mengerjap. Tangannya menyentuh tempat tidur yg sudah
kosong di sampingnya dan mendadak kesadarannya kembali dengan begitu cepat. Gadis iyu
terduduk sambil mencengkram kemeja putih yg terlihat kebesaran di tubuhnya dan mengalihkan
pandangannya ke sekeliling kamar.
Ingatan tentang kejadian semalam membanjiri otaknya. Penculikan, bunyi tembakan, dan.......
Dia menggelengkan kepalanya, terpana sendiri dengan begitu pesatnya kemajuan dalam hubungan
pernikahannya dengan Kyuhyun. Oh baiklah, itu tidak buruk sama sekali. Setidaknya Hye Na tidak
merasa menyesal melakukannya.
Gadis itu mendadak menyadari rasa nyeri yg berdenyut-denyut mengerikan di lengan bagian
atasnya. Cukup sakit untuk membuatnya meringis, walaupun terasa lebih lumayan dari pada
semalam. Dia menyibakkan selimut yg menutupi tubuhnya dan sedikit menunduk, menghirup wangi
yg menguar dari kemeja putih yg dipakainya.
Ada campuran bau cologne dan bau tubuh pria itu disana, dan entah kenapa Hye Na berpijir bahwa
dia sangat menyukainya. Hal tersebut sukses membuat gadis itu memaki-maki dirinya sendiri.
Apa memang semudah ity untuk jatuh cinta kepada seorang Cho Kyuhyun?
Hye Na bangkit dari tempat tidur dan melangkah masuk ke kamarnya melalui pintu penghubung. Dia
menarik keluar celana pendek dari lemari pakaiannya dan mengenakannya dengan cepat, secepat yg
bisa dilakukan tangannya yg terluka, lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh muka. Dia melirik
bayangannya sekilas di kaca dan langsung melotot kaget. Ada banyak bercak merah di sekeliling
lehernya dan dia langsung bergidik ngeri memutar otaknya dengan cepat untuk menyembunyikan
bekas itu sebelum berangkat ke Kantor nanti. Sepertinya dia memiliki blus dengan kerah tinggi yg
mungkin bisa membantu, tapi tidak mungkin dia memakainya. Akan sangat sulit mengenakan baju
itu nanti, mengingat luka yg sedang dideritanya. Pakaian yg bisa dikenakannya sekarang hanya
kemeja dan mustahil jika dua mengancingkannya sampai ke leher, semua orang pasti akan
menatapnya dengan aneh nanti.
Aish, pria itu menyusahkanku saja, geran Hye Na dalam hati.
Dia memutuskan menyingkirkan pikiran itu dulu selama beberapa saat ke depan saat mendengar
perutnya berbunyi minta diisi.
Gadis itu melangkah keluar kamar, pergi menuju ruang makan yg terletak di bagian utara rumah,
tersambung dengan taman belakang yg menjadi latar pemandangan. Bukan sekedar taman
belakang, tapi sebuah taman bunga besar yg terhubung dengan hutan pinus, tempat yv bisa
digunakan jika kau menginginkan ketenangan.
Langkah Hye Na terhenti saat melihat bahwa ruang makan itu tidak kosong.

Yoana Dianika - Hujan Punya Cerita tentang Kita

Yoana Dianika - Hujan Punya Cerita tentang Kita
Yoana Dianika - Hujan Punya Cerita tentang Kita
" Kelvin, jangan terlalu ketengah." Kinanthi mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak.
Anak laki-laki berumur tujuh thun itu tdk menggubris teriakan mamanya. Dia semakin
menengah. Menyongsong gulungan ombak Pantai Kuta yg berkejaran menepi. Cuaca hari ini
cerah. Sangat cocok untuk bermain air atau sekedar berjemur santai.

Baju atas Kelvin sudah tanggal sejak 20 menit lalu. Teronggok begitu saja disamping mamanya
yg duduk santai dibawah pohon kelapa. Anak itu hanya mengenakan celana pendek 3/4. Ujung2
celananya basah, lengket dgn butiran pasir. Rambut pendek cepaknya terlihat bersinar. Teraliri
bulir2 keringat yg bercampur air laut. Kelvin menikmati liburannya hari itu.

" Ombaknya seru, Ma!" Kelvin berteriak balik. Tidak kalah kencang.
Kie nyaris saja berdiri kalau suaminya tdk meraih lengannya. " Biar aku yg menyusul Kelvin,"
kata laki-laki itu. Bibirnya menyungging senyuman ringan.
Kie mengangguk. Setuju akan usul suaminya.

Laki-laki bermata sipit itu beranjak dari tempat duduknya disamping Kie. Kakinya melangkah
maju. Dua langkah kemudain, dia berbalik lagi, sepasang matanya menatap Kie. " Ayo ikut,"
ajaknya. " Lebih seru kalo kita basah-basahan bersama."
"Aku disini saja, sayang."
" Ayolah." Laki-laki itu menarik jemari Kie tanpa mengulur waktu. Mereka berdua menghampiri
Kelvin yg asyik bermain ombak dibatas pantai.
Angin pantai Kuta siang itu sejuk. Pepohonan kelapa yg tumbuh disekitar pantai mengembuskan
semilir angin yg begitu tenang. Menyeruakan aroma khas kehdupan dilaut. Hiruk pikuk
pengunjung juga memberikan nuansa asyik tersendiri.
" Sini, Ma....." Kelvin membelah air laut dgn kakinya. Butiran air asin itu mengenai ujung kain
pantai yg terlilit dipinggang Kinanthi.
" Kalau ku tambahi bgaimana?" suami Kie tdk mau kalah. Dia meraup air dan memercikanny ke
arah Kie.
Mereka saling lempar satu sama lain, hingga sama-sama basah. Saling mendorong, berkejaran di
ambang pantai, bahkan sesekali terjungkal diatas pasir basah.

Wulan Dewatra - Hujan dan Teduh

Wulan Dewatra - Hujan dan Teduh
Wulan Dewatra - Hujan dan Teduh
Samar-samar, dari balik jendela sebuah kamar di lantai empat asrama, salju yang telah membeku
membuat engsel-engsel jendela tak dapat dibuka. Butiran demi butiran salju terlihat berjatuhan di
atas pucuk cemara juga sudah memutih. Di dalam kamar tersebut, yang gelap karena sengaja
dimatikan lampunya, seorang perempuan ber-sweater tebal dengan hidung merah karena flu
tengah menyandarkan dahinya yang hangat di jendela. Setiap embusan napasnya yang bersuhu
lebih tinggi dari suhu ruangan berubah menjadi kabut di hadapannya. Sebagian lagi menjadi
titik-titik embun yang menempel di kaca jendela yang tengah disandarinya itu.
Di dadanya, sebuah berkas dibungkus amplop cokelat yang ujung-ujungnya terlipat, ia peluk
erat-erat. Berkas yang dari tadi siang diabaikan dan tidak dihiraukannya itu kini benar-benar
mengimpitnya, membuatnya sesak.
Dengan pandangan kosong, ditatapnya tempat tidur di seberang ranjang yang sedang di
dudukinya. Di sana, teman sekamarnya tengah terlelap tenang dengan dada naik turun seirama
napasnya yang teratur.
Getaran handphone, yang entah berada di mana, di atas ranjangnya, menyadarkannya dari
lamunan. Sebuah SMS baru masuk. Dengan malas, dicarinya handphone itu.
Halaman yang menampilkan e-mail yang tengah dibukanya beberapa jam lalu dan tidak ia balas
terpampang di layar handphone.

Winna Effendy - Remember When


Winna Effendy - Remember When

Winna Effendy - Remember When
"Ngeliatin dia lagi?"

Aku meletakkan pensil dan mengernyit ke arah Adrian. Malas berbohong karena apa pun
bohong yang kuupayakan, dia pasti akan tahu juga. Itulah tidak enaknya berteman dengan
seseorang sejak kecil. Dia sudah hafal tingkah-lakumu luar dalam.

"Man, lo udah jatuh cinta, rupanya." Adrian kembali berkomentar, kali ini turut
memperhatikan si dia yang sedang membaca dari kejauhan.

Yang dimaksud dia oleh Adrian adalah seorang perempuan bernama Freya. Tinggi jangkung,
berkulit putih pucat tanpa rona merah. Postur tubuhnya agak membungkuk, seolah tinggi
tubuh yang ia miliki membuatnya tak nyaman.

Aku pertama kali berjumpa dengannya saat orientasi SMU beberapa bulan yang lalu.
Sepasang murid laki-laki dan perempuan dengan nilai tertinggi dipanggil untuk maju ke
podium pada hari pertama orientasi. Saat itu, namaku dan Freya disebut. Seperti biasa,
nilaiku hampir sempurna, dengan Freya satu poin di bawahku.

Winna Effendy - Refrain

Winna Effendy - Refrain
Winna Effendy - Refrain
Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini.
Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa
mungkin untuk mempertahankannya.

Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat
sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada
sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cerita harus
ada yang terluka.

Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana.
Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki
meskipun diam-diam saling melukai.

Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah
kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa
sakit karena persahabatan itu sendiri.

Windyasari S - The Feels A Fat

Windyasari S - The Feels A Fat
Windyasari S - The Feels A Fat
Hai!...apapun alasan kamu kenapa buku ini
bisa ada di tangan kamu sampai bagian pengantar
ini kebaca itu merupakan pertanda bagus!. Selain
itu, tentunya berarti kamu ada minat terhadap buku.
Itu pertanda bagus!
Buku yang saya tulis ini cukup ringan dan
isinya adalah sebuah cerita fiksi yang memang saya
sangat ingin untuk menuliskannya. Tokoh-tokoh di
sini, mereka adalah orang-orang yang terbentuk
dalam sebuah grup band bernama The Feels A Fat.
Yang sebenarnya pelesetan dari kata ‘filsafat’
tapi..tapi..tapi..wait! saya tidak bermaksud
meremehkan kata itu. Justru saya ingin kata itu
menjadi seolah-olah ringan dan menarik perhatian.
Itu saja koq. Karena saya sendiri meminati filsafat
walau secara non-akademis (kalo tidak disebut
amatir).

Windhy Puspitadewi - Touche

Windhy Puspitadewi - Touche
Windhy Puspitadewi - Touche
Riska menangis. Dia terpisah dari mamanya di festival kota karena terlalu
asyik memperhatikan mainan burung yang dijual di salah satu lapak. Dia tidak
sadar mamanya sudah berjalan agak jauh. Riska masih berumur enam tahun
dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain menangis. Tinggi badannya
yang belum seberapa membuat dia luput dari perhatian orang-orang yang lalu
lalang di depannya. Akhirnya dia hanya bisa berjongkok di bawah salah satu
pohon dan menangis.
Setelah lelah, Riska berhenti menangis. Saat memandang sekeliling barulah
dia menyadari seorang anak laki-laki seumuran dengannya sedang duduk tidak
jauh darinya.
“Siapa?” Tanya Riska masih terisak.
Anak laki-laki itu diam saja. Matanya lurus tertuju ke keramaian di
depannya.
“Kau tahu mamaku?” Tanya Riska lagi.
Anak laki-laki itu masih bungkam.
Sama sekali tidak diberi tanggapan, Riska kembali menangis. Sarung tangan
warna pink-nya basah. Mamanya selalu memakaikan Riska sarung tangan saat
pergi keluar, karena jika tidak Riska pasti menangis dan mengeluh pusing.
Anak laki-laki itu tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah Riska. Dia
mencondongkan tubuhnya lalu mengulurkan tangan pada Riska.
Riska menghentikan tangisnya dan menyambut uluran tangan anak itu
dengan tatapan bingung.
Sesaat setelah anak itu menjabat tangan Riska, dia mengangguk lalu menarik
Riska menuju keramaian.
“Ayo,” katanya kemudian. “Kita cari mamamu.”
“Eh?”
Anak itu tidak mengubrisnya. Mereka terus berjalan di sela-sela orang yang
berlalu lalang. Tidak jarang mereka ditabrak orang-orang yang lebih tinggi
daripada mereka, tapi Riska mendapati kadang anak itu memang sengaja
menabrakkan diri.
“Tidak lama lagi,” kata anak itu.
“Mama?” Kata-kata Riska terhenti. “Kau tahu mamaku?”

Windhy Puspitadewi - Touch Alchemist

Windhy Puspitadewi - Touch Alchemist
Windhy Puspitadewi - Touch Alchemist
KAREN berkali-kali melihat ke arah jam tangannya. Ayahnya berjanji bertemu dia di kafe dekat
kantor polisi pukul sembilan pagi untuk sarapan bersama dan sekarang hampir pukul dua belas.
Sejak orangtuanya bercerai tahun lalu, Karen hampir tidak pernah bertemu ayahnya. Kesibukan
ayahnya sebagai detektif di kepolisian New York, yg juga merupakan penyebab utama
perceraiannya, sangat menyita waktu hingga dia hampir tidak bisa dihubungi, apalagi ditemui.
Karen menghela napas. Ini sudah kesekian kali ayahnya gagal menepati janji. Dia meletakkan
ponsel, lalu mengambil buku dari tas, dan saat mulai membaca, mendengar namanya dipanggil.
"Karen!"
Karen menoleh dan melihat ayahnya masuk ke kafe, tergopoh-gopoh berjalan menuju mejanya.
Keringatnya bercucuran.
"Maafkan Ayah," kata ayahnya sambil mengelap wajah dengan saputangan. "Tadi ada sedikit
urusan di kantor. Kau sudah lama di sini?"
Ayah melirik ke arah jam tangannya. "Pertanyaan bodoh, sudah tiga jam kau di sini. Sekali lagi
maafkan Ayah."
Karen menutup buku dan tersenyum. "Tidak apa, Ayah. Aku senang Ayah bisa datang."
"Aku juga senang melihatmu lagi," kata ayahnya sambil menggenggam tangan Karen.
"Bagaimana kabar ibumu? Apa dia sudah menikah lagi?"
"Belum," Karen menggeleng. "Ibu baik2 saja. Ibu kembali memakai nama keluarganya."
Ayah Karen mengangkat alis. "Kau juga berubah menjadi..."
Karen mengangguk. "Karen Hanagawa. Yah... memang tidak cocok, tapi mau bagaimana lagi?
Aku yg memutuskan untuk ikut Ibu."
"Maafkan Ayah. Ayah sebenarnya ingin kau tetap menjadi Karen Hudson," kata ayahnya dengan
nada menyesal. "Tapi pekerjaan Ayah..."
Belum sempat ayahnya meneruskan kalimat, ponsel di saku kemejanya berbunyi. "Sial!"
"Ya, halo, Detektif Hudson di sini," jawab ayah Karen. Setelah terdiam sejenak, mendengar
suara di seberang telepon, raut wajahnya lambat laun berubah. "Mayat wanita? Di mana?
Central Park?"
Ayah Karen menutup telepon dan bangkit terburu-buru, lalu ingat kembali dengan keberadaan
putrinya. "Karen, mmm... Ayah..." Dia bingung harus berkata apa. Mereka baru bertemu lagi
setelah satu tahun, dan sesudah menyuruh anaknya menunggu tiga jam, sekarang dia harus
meninggalkannya gara2 pekerjaan.
"Tidak apa2, Ayah," Karen mengangguk maklum. "Aku mengerti. Ayah pergi saja."
Ayah mengangguk. "Terima kasih, Karen. Kita buat janji lagi lain kali."
Karen memaksakan diri tersenyum, yakin tidak akan semudah itu membuat janji temu dengan
ayahnya, bahkan hanya untuk makan siang.
Setelah beberapa langkah, ayahnya berhenti, lalu membalikkan badan dengan wajah berseri.
"Karen! Bagaimana kalau kau ikut Ayah?"
"Memangnya boleh?" Karen mengerutkan kening.
"Kenapa tidak?" Ayahnya langsung menarik tangan Karen, mengajaknya ke luar kafe.
Karen secepat mungkin menyambar tasnya. "Tu... tunggu, Ayah, aku belum membayar kopi!"
Ayahnya merogoh kantong celana, lalu melemparkan uang $20 ke meja yg ditempati Karen.
"Sekarang beres."
***

Windhy Puspitadewi - sHe

Windhy Puspitadewi - sHe
Windhy Puspitadewi - sHe
Dhinar mengambil satu satunya komik conan yang tersisa ketika tiba-tiba seseorang di dekatnya
terpekik kecil.
"Aaah!"
Dhinar menoleh dan dilihatnya cewek yang sepertinya seumuran dengannya tampak panik
campur kecewa menatap tumpukan komik di depan mereka.
"habis.." desah cewek itu.
Cewek itu menoleh kearah Dhinar dan lansung menyadari dhinar memegang komik yang
dicarinya.
"itu.. Yang terakhir, ya?" tanyanya sambil menatap dhinar penuh harap.
"Hah? Eh.. Oh.. Iya.. Sepertinya," jawab dhinar tergagap, tidak menyangka akan ditanya secara
tiba2 sperti itu.
"padahal aku berharap kamu bilang 'tidak'," keluh cewek itu. "tau gasih aku udah muter2 ke
sanakemari, dari satu toko buku ke toko buku yang lain, tapi selauu aja kehabisan," kata cewek
itu lagi, kali ini berapi-api. "Memangnya si penerbit itu cetak berapa biji sih? Nggak tau deh aku
mesti nyari kemana lagi."
Dhinar menyerngit, bertanya tanya kmna sebenarnya arah pembicaraan ini. Jangan2 dia mau
meminta komik ini dariku. JANGAN HARAP!
Seakan akan bisa membaca pikiran dhinar, cewek itu buru2 menambahkan, "eh, aku sama sekali
nggal berniat meminta punyamu lho!".
Pipi dhinar langsung bersemu.
"kamu penyuka komik atau cuma conan aja?". Tanyanya cewek itu kemudian.
Dhinar terdiam sejenak, tapi kemudian menjawab, "aku suka smua komik".
Entah kenapa, tiba2 cewek itu tersenyum senang. "wah senangnya! Aku ketemu lagi temen
sealiran!"
"sealiran?" tanya Dhinar heran

Windhy Puspitadewi - Let Go

Windhy Puspitadewi - Let Go
Windhy Puspitadewi - Let Go
Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau
tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau
sendiri mengalaminya.

Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain,
selama ia merasa benar, dia akan
melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak
mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya,
dan Sarah. Tiga orang dengan sifat yang
berbeda, yang terpaksa bersama untuk
mengurus mading sekolah.

Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis.
Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta
bantuan orang lain, dan Sarah, cewek pemalu
yang membuat Raka selalu ingin membantunya.

Valleria Verawati - Nggak Usah Jaim Deh!

Valleria Verawati - Nggak Usah Jaim Deh!
Valleria Verawati - Nggak Usah Jaim Deh!
KRING....!!! Jam beker warna pink berbentuk sepatu yang bertengger manis di meja coklat tepat
di sebelah tempat tidur Rhea mulai berteriak nyaring, membangunkan si empunya dari tidur
lelapnya.

Tangan Rhea menggapai-gapai, mencari sumber suara dan berusaha menghentikan bising yang
sudah mengganggu mimpi indahnya. Matanya tetap tertutup rapat. Kepalanya pun masih terasa
berat. Tapi belum sempat Rhea meraih jam bekernya, HP-nya malah ikut berbunyi, menambah
semarak suara di kamarnya. Meriah banget kaya lg pesta tahun baru.

"Aaarrggh...!!!" Rhea akhirnya berteriak marah dan bangun dari tidurnya. Ditekannya tombol off
pada jam beker di meja dan disambarnya HP di sebelah bantalnya untuk segera dinonaktifkan.
Suasana kamar Rhea kembali tenang. Ogah-ogahan, Rhea melirik jam beker yang telah
mengganggu tidurnya itu. Baru jam 05.45.

Rhea melempar selimut yang melilit kakinya. Ia duduk di tempat tidur masih dengan mata
setengah terpejam. Tangan kirinya menggaruk-garuk kepala, membuat rambut panjangnya yang
kusut bertambah kusut. Rhea menatap sekeliling kamar, lalu menguap lebar. Setelah energinya
mulai terkumpul, ia bangkit menuju cermin yang tergantung di samping pintu kamarnya,
kemudian menatap wajahnya. Entah apa yang dilihatnya, namun setelah beberapa saat lagi-lagi
ia menguap. Setengah enggan Rhea melangkah gontai, seakan terdapat beban dua ton yang
terikat di kedua kakinya yang membuat langkahnya terasa berat.

Perlahan ia beranjak menuju kamar mandi. Ia berhenti sejenak di lemari kecil yang ada di
samping kamar mandi dan menyambar handuk yang masih terlipat rapi diatas lemari itu,
kemudian menyampirkannya di bahu. Diayunkannya langkah memasuki kamar mandi mungil
bernuansa biru laut yang terletak di dalam kamarnya, lalu menutup pintunya.

Jam 06.15 Rhea sudah siap. Rambutnya yang panjang sudah tersisir rapi. Jepitan berbentuk
burung menempel di rambutnya, di dekat telinga kanannya. Ia cuma memakai badak tipis,
lipglos, plus cologne bayi. Rhea menuruni anak tangga menuju ruang makan. Tas ransel warna
pink bergambar babi kecil yang selalu setia setia menemaninya ke sekolah diletakannya di meja
telepon yang berada nggak jauh dari ruang makan.

Papa, Mama, dan Mbak Reva sudah duduk mengelilingi meja makan. Papa lagi serius baca koran
sampai-sampai mukanya nggak kelihatan karena tertutup koran. Mama lagi sibuk mengolesi selai
kacang ke roti tawar. Mbak Reva lagi asyik menikmati setangkup roti tawar sambil baca buku
yang tebalnya 5 cm dan nggak jelas apa isinya.