Loading...

Angelia Putri - Fiction

Angelia Putri - Fiction
Angelia Putri - Fiction
“Yuri! Yuri!!”, teriak seseoarang yang memanggil namaku. Aku menoleh ke arah suara itu, dan ternyata itu Deria, temanku sejak aku masih SD. “Ada apa, sih? Kok, teriak-teriak, Der??” tanyaku sambil berlari ke arah Deria. “Iiihh!!!! Kamu gimana, sih?? PPAM (Perkumpulan Pecinta Anime & Manga), kan ngumpul, Yuri!!!!”, kata Deria mulai ngoceh. “Iya, aku tahu... Baru saja aku mau ke kelas Nayla danTami.”, jelasku saat Deria bersiap-siap ngomong lagi.
“Kak Yuri!!! Kak Deria!!”, aku dan Deria menoleh ke arah suara itu. Rupanya itu Nayla dan Tami. “Hai Nayla, hai Tami.” sapaku pada meeka. “Kak, aku punya gambar baru, nih...” kata Nayla saat dia dan Tami sudah ada dihadapanku dan Deria. “Mana? Mana?” tanya Deria semangat. “Kak Deria sabar dulu, dong?!” ujar Tami mengingatkan.
“Tada!!!” seru Nayla memperlihatkan gambarannya. “Wah... Keren, Nay!” kataku memuji gambar yang dipegang Nayla. “Iiiyy... Curang! Keren banget!” kata Deria sambil merebut gambar Nayla dari tangan Nayla, “Iiiyy... Kak Deria! Kok diambil, sih??” seru Nayla sambil berusaha merebut gambarannya dari tangan Deria kembali. ”Sebentar, dong... Sabar.” katanya nyengir. “Kembalikan saja, Der.” kataku mengambil gambar Nayla yang diumpetin Deria dibelakang punggungnya.
0

Tere Liye - Bintang

Tere Liye - Bintang
Tere Liye - Bintang
*Novel “BINTANG”
Kami pulang terlambat sekali setelah bertemu dengan Miss Selena di ruangan guru BP sekolah. Bertiga, menumpang angkutan umum berwarna kuning. Hanya kami isi angkot itu.

Ali terlihat bersungut-sungut, dia masih tidak terima Miss Selena melarang kami menggunakan Buku Kehidupan untuk membuka portal dunia paralel.

Pukul dua siang, di luar kendaraan terasa panas. Ali membuka jendela angkot lebar-lebar. Gerah. Jalanan macet, berisik suara klakson sesekali meningkahi suasana. Di perempatan depan, bertambah pula masalah kami. Dua orang laki-laki dewasa, mungkin usianya sekitar tiga puluh tahun, dengan pakaian semrawut, rambut berantakan, naik ke atas angkutan. Mereka sepertinya preman kota yang belakangan sering mengganggu penumpang kendaraan umum.

Seli berbisik, bilang apakah kami sebaiknya bergegas turun. Dua penumpang ini menatap kami tajam, mengancam. Belum sempat aku menyetujui pendapat Seli, dua preman itu telah beranjak duduk, membuat kami terpojok di bagian belakang angkot. Mengunci kami, tidak bisa kemana-mana. Salah-satu dari mereka berbisik kasar mengancam.

“Keluarkan uang kalian.”

Aku terdiam, menelan ludah. Seli pias, memegang lenganku. Ali justeru nyengir lebar, balik bertanya, “Eh, kalian serius mau memalak kami?”

Dua preman itu tentu saja serius. Mereka mengacungkan pisau ke arah kami. Sementara sopir angkot sepertinya tidak tahu apa yang terjadi di belakang, dia sibuk nyelip kesana-kemari di tengah macet.

“Serahkan uang kalian!” Preman itu mendesak.

Ali kali ini tertawa kecil, “Ini benar-benar menarik, setelah tadi menyebalkan di sekolah, sekarang sebuah kejutan. Maksudku, ada ribuan kendaraan umum di kota ini, kalian harus naik angkot ini, lantas menodong Raib dan Seli? Kalian apes sekali.”

Aku menyikut Ali, menyuruhnya diam. Si Biang Kerok ini selalu saja santai dalam banyak hal.

“Tapi ini benar loh, Ra. Mereka sial sekali. Bukan maksudku karena kita tidak bawa uang sama sekali. Melainkan mereka tidak tahu sedang menodong siapa.” Ali tetap tertawa.

Dua preman itu nampak marah melihat tawa Ali yang menyepelekan, mereka mengacungkan pisau lebih dekat. Hanya lima senti dari wajahku. Seli menjerit ngeri. “Tutup mulutmu, anak ingusan, serahkan uang atau aku lukai temanmu, hah!”

Splash. Aku tidak punya pilihan. Aku telah memegang lengan Seli dan Ali. Tubuh kami menghilang, untuk sesaat splash, kami bertiga telah muncul di belakang sebuah bangunan yang sepi. Aku memutuskan melakukan teknik teleportasi. Darurat. Kami memang dilarang menggunakan kekuatan kami sembarangan, tapi dengan dua pisau mengancam, menghindari keributan bisa dikecualikan.

“Ini tidak seru, Ra!” Ali langsung protes saat kami muncul, “Kamu harusnya mengirim pukulan salju berdentum ke dua preman tadi.”

Apanya yang tidak seru, aku melotot. Telat menghilang sedetik, bisa panjang urusan di angkot tadi. Pukulan berdentum. Itu ide buruk. Kami akan jadi tontonan satu kota.

“Dan kamu seharusnya menyambar mereka dengan petir, Seli! Bukan malah ketakutan.” Ali sekarang menoleh. Wajah Seli masih pias, berpegangan kepadaku.

Sementara di angkot, dua ratus meter dari lokasi kami sekarang, dua preman itu sedang sibuk meraba-raba kursi dan dinding angkot, tangan mereka menggapai-gapai udara kosong. Wajah mereka bingung. “Coy, kemana mereka?” Temannya bertanya gugup. “Aku tidak tahu. Tadi masih di sana kan, Coy?” “Tidak ada, mereka menghilang…. Jangan-jangan.” “Jangan-jangan apa?” Temannya menimpali. “Jangan-jangan mereka mahkluk jejadian.” Dua preman itu terdiam, saling tatap, lantas bergegas lompat turun dari angkot. Lari secepat mungkin.

*Novel “BINTANG”, Tere Liye
0

Amel Fernandess - Love Latte

Amel Fernandess - Love Latte
Amel Fernandess - Love Latte
Cinta Neska seperti kopi latte. Tantangan ditinggalkan Jo tanpa alasan, dan berkorban menunggu cowok itu kembali. Tapi Jo terlanjur menghilang, menciptakan bimbang dihati Neska saat Josh datang dalam hidupnya. Neska tak mau jatuh cinta lagi, sebelum tahu alasan Jo meninggalkannya. Ia terus mencoba lari dari pesona Josh. Bisakah?
Nesaka tak tahu jawabanya senelum ia bertemu Nat, kakak Josh yang sakit parah dan melupakan banyak hal di masa lalunya, termasuk gadis yang dicintainya. Nat yang tanpa sadar merelakan gadis yang paling dicintainya untuk adiknya.
Neska tahu, cintanya kembali ke tempat semula, di hati Jo. Jo yang ditemukanya pada saat yang tidak tepat dan tak mungkin lagi bergandengan tangan dengannya seperti yang selau ia sebut dalam doa. Tapi Neska yakin ia tak akn menyesal, karena ia tahu, cita harus mengalami banyak hal untuk menjadi sempurna, seperti kopi latte: pemanasan, mengembang, dan akhirnya menguap...
0

Alistair Maclean - Pertemuan Maut Di Kutub Utara - Ice Station Zebra

Alistair Maclean - Pertemuan Maut Di Kutub Utara - Ice Station Zebra
Alistair Maclean - Pertemuan Maut Di Kutub Utara - Ice Station Zebra
Walaupun kabut sudah mulai turun dan,agak mengganggu penglihatan saya, tapi saya yakin bahwa yang sedang mendatangi saya itu adalah Letnan Kolonel James D. Swanson dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Dialah komandan dan sebuah kapal selam yang paling mutahir dan paling hebat. Dari garis-garis yang tampak di sekitar mata dan mulutnya, saya mendapat kesan bahwa dia adalah seorang pria yang menyenangkan, tapi saya rasa bukan sifat itu saja yang memungkinkan ia menduduki jabatannya yang sekarang. Matanya itulah. Dia memiliki sepasang mata yang berwarna keabu-abuan. Mata yang paling jernih dan yang paling dingin, yang pernah saya temui. Ketika dia berhenti di’ hadapan saya, ditelitinya wajah saya dan kemudian matanya menatap sehelai kertas yang dipegangnya. Dari matanya itu saya yakin bahwa dia sudah menarik sebuah kesimpulan.
“Maaf, Dr. Carpenter,” katanya dengan suara tenang dan ramah, tapi saya tak mendengar adanya rasa sesal dalam permintaan maafnya itu. Dilipatnya kertas tilgram itu dan dimasukkannya kembali dalam sampulnya. “Maaf saya tak bisa menerima tilgram ini sebagai suatu perintah resmi ataupun menerima anda sebagai penumpang di kapal ini. Saya harap anda tidak salah faham, karena saya rasa andapun mengerti bahwa saya harus mentaati peraturan yang berlaku.”
“Perintah resmi?” Saya keluarkan lagi tilgram itu dan saya perlihatkan tanda tangan yang tertera di sana. “Apa anda kira ini tanda tangan seorang kacung di Markas Besar Angkatan Laut Inggris?” Ini memang tidak lucu.
0

Alex's Wish - Elcy Anastasia

Alexs Wish - Elcy Anastasia
Alex's Wish - Elcy Anastasia
JAUH di suatu tempat, di langit tak terbatas, ada dua kerajaan besar bernama Asteria dan Malvera. Asteria negeri yang penuh kesederhanaan, baik kerajaan maupun rakyatnya.
Walaupun begitu, negeri ini tetap saja terlihat menyenangkan dan sangat nyaman dihuni. Lingkungannya sangat bersih dan teratur. Bunga bermekaran di sepanjang jalan dan taman di seluruh penjuru negeri. Bangunan kerajaan yang megah dan besar terlihat asri dengan taman yang mengelilinginya. Sikap bersahabat seluruh penghuni kerajaan menambah kehangatan negeri yang dihuni para malaikat ini.
Sementara Malvera adalah negeri yang penuh kemewahan. Bangunan-bangunan megah, yang nggak jarang dihiasi kilauan emas, memenuhi tiap sudut negeri yang dihuni para setan itu. Namun nggak seperti Asteria yang nyaman dan asri, negeri megah Malvera malah terkesan kaku dan menakutkan. Sejauh mata memandang hanya ada tembok-tembok kaku dan dominasi warna hitam. Nggak tampak serangkai bunga pun di negeri ini. Malaikat dan setan adalah dua makhluk yang menghuni dunia langit. Kehidupan di langit sama dengn di bumi. Di sana terdapat pemerintahan yang mengatur negeri, perkantoran, sekolah, dan sebagainya. Dan di sana juga terdapat kendaraan yang sama seperi di bumi.
0

Ahmad Tohari - Ronggeng Dukuh Paruk

Ahmad Tohari - Ronggeng Dukuh Paruk
Ahmad Tohari - Ronggeng Dukuh Paruk
Sepasang burung bangau melayang meniti angin berputar-putar tinggi di langit. Tanpa sekali pun mengepak sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya. Suaranya melengking seperti keluhan panjang. Air. Kedua unggas itu telah melayang beratus-ratus kilometer mencari genangan air. Telah lama mereka merindukan amparan lumpur tempat mereka mencari mangsa; katak, ikan, udang atau serangga air lainnya.
Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah tujuh bulan kerontang. Sepasang burung bangau itu takkan menemukan genangan air meski hanya selebar telapak kaki. Sawah berubah menjadipadang kering berwarna kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi bercak-bercak hijau di sana-sini adalah kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik. Tumbuhan jenis kaktus ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya.
Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbang bagai batu lepas dari katapel sambil menjerit sejadi-jadinya. Di belakangnya, seekor alap-alap mengejar dengan kecepatan berlebih. Udara yang ditempuh kedua binatang ini membuat suara desau. Jerit pipit kecil itu terdengar ketika paruh alap-alap menggigit kepalanya. Bulu-bulu halus beterbangan. Pembunuhan terjadi di udara yang lengang, di atas Dukuh Paruk.
0

Ahmad Tohari - Orang-orang Proyek

Ahmad Tohari - Orang-orang Proyek
Ahmad Tohari - Orang-orang Proyek
Pagi ini Sungai Cibawor kelihatan letih. Tiga hari yang lalu hujan deras di hulu membuat sungai ini banjir besar. Un- tung sudah jadi watak sungai pegunungan, banjir yang terjadi berlangsung cepat. Air yang semula jernih mulai mengeruh di pagi hari, meninggi dan segera menggelora setengah jam kemudian. Cibawor seperti sedang digelontor dari hulu dengan bah besar yang pekat berlumpur serta membawa segala macam sampah, dari sandal karet, bekas botol plastik, batang pisang, sampai batang mahoni.
Banjir kali ini memang besar. Setelah air surut hanya beberapa jam kemudian, banyak sampah tersangkut di ran- ting pepohonan. Pada tebing yang curam tampak rerum- putan dan pakis-pakisan tercerabut oleh derasnya air. Din- ding cadas yang tergerus. Pada bantaran yang landai, banjir telah menutup hamparan lahan pertanian dengan lumpur, batu, dan pasir. Ada pohon cangkring roboh karena tanah miring tempatnya berpijak longsor. Akarnya men- cuat ke atas seperti tangan-tangan yang ingin menggapai sesuatu untuk bertahan.
0

Ahmad Tohari - Lintang Kemukus Dini Hari

Ahmad Tohari - Lintang Kemukus Dini Hari
Ahmad Tohari - Lintang Kemukus Dini Hari
Dukuh Paruk masih diam meskipun beberapa jens satwanya sudah terjaga oleh pertanda datangnya pagi. Kambing-kambing mulai gelisah dalam kandangnya. Kokok ayam jantan terdengar satu-satu, makin lama makin sering. Burung sikatan mencecet-cecet dari tempat persembunyiannya. Dia siap melesat bila terlihat serangga pertama melintas dalam sudut pandangnya. Dari sarangnya di pohon aren keluar seekor bajing karena tercium bau lawan jenisnya. Mereka berkejaran. Dahan-dahan bergoyangan. Tetes-tetes embun jatuh menimbulkan suara serempak. Seekor codot melintas di atas pohon pisang. Tepat di atas daun yang masih kuncup, binatang mengirap itu mendadak menghentikan kecepatannya. Tubuh yang ringan jatuh begitu saja ke dalam lubang kuncup daun pisang itu.
Jangkrik, gangsir, dan walang kerik sudah lama bungkam. Gangsir menyembunyikan diri dalam liang di tanah yang disumbat dari dalam. Walang kerik membaurkan diri dengan warna hijau dedaunan. Dia hanya bisa diketahui bila ada embusan angin. Pada saat itulah naluri memerintahkannya menggesekkan sayap sehingga terjadi suara yang khas.
Ada sebatang pohon jambu air di salah satu sudut Dukuh Paruk. Dalam kerimbunan daun-daunnya sedang dipagelarkan harmoni alam; beratus-ratus lebah madu dengan ketekunan yang menakjubkan sedang menghimpun serbuk sari. Sayap-sayapnya mendengungkan aneka nada halus dan datar, mengisi kelengangan pagi yang masih temaram. Tanah di bawah pohon jambu itu memutih oleh hamparan beribu-ribu tangkai sari. Bau wangi tanah, suara lembut sayap-sayap lebah madu dan pendar embun yang mulai menangkap cahaya dari timur.
0

Ahmad Tohari - Kubah

Ahmad Tohari - Kubah
Ahmad Tohari - Kubah
Dia tampak amat canggung dan gamang. Gerak-geriknya serba kikuk sehingga mengundang rasa kasihan. Kepada Komandan, Karman membungkuk berlebihan. Kemudian dia mundur beberapa langkah, lalu berbalik. Kertas-kertas itu dipegangnya dengan hati-hati, tetapi tangannya bergetar. Karman merasa yakin seluruh dirinya ikut terlipat bersama surat-surat tanda pembebasannya itu. Bahkan pada saat itu Karman merasa totalitas dirinya tidak semahal apa yang kini berada dalam genggamannya.
Sampai di dekat pintu keluar, Karman kembali gagap dan tertegun. Menoleh ke kiri dan kanan seakan ia merasa sedang ditonton oleh seribu pasang mata. Akhirnya, dengan kaki gemetar ia melangkah menuruni tangga gedung Markas Komando Distrik Militer itu.
Terik matahari langsung menyiram tubuhnya begitu Karman mencapai tempat terbuka di halaman gedung. Panas. Rumput dan tanaman hias yang tak terawat tampak kusam dan layu. Banyak daun dan rantingnya yang kering dan mati. Debu mengepul mengikuti langkah-langkah letaki yang baru datang dari Pulau B itu.
Dari jauh Karman melihat lapisan aspal jalan raya memantulkan fatamorgana. Atap seng gedung olahraga di seberang jalan itu berbinar karena terpanggang panas matahari.
0

Ahmad Tohari - Di Kaki Bukit Cibalak

Ahmad Tohari - Di Kaki Bukit Cibalak
Ahmad Tohari - Di Kaki Bukit Cibalak
Dulu, jalan setapak itu adalah terowongan yang menembus belukar puyengan. Bila iring- iringan kerbau lewat, tubuh mereka tenggelam di bawah terowongan semak itu. Hanya bunyi korakan yang tergantung pada leher mereka terdengar dengan suara berdentang-dentang, iramanya tetap dan datar. Burung-burung kucica yang terkejut, terbang mencicit. Mereka tetap tidak mengerti mengapa kerbau-kerbau senang mengusik ketenteraman belukar puyengan tempat burung-burung kecil itu bersarang. Meskipun kerbau-kerbau itu telah jauh memasuki hutan jati Bukit Cibalak, suara korakan mereka masih tetap terdengar. Dan bunyi korakan adalah pertanda yang selalu didengarkan oleh majikan. Para pemilik kerbau di sekitar kaki Bukit Cibalak tidak menggembalakan ternak mereka. Binatang itu bebas berkeliaran mencari rumput, mencari umbut gelagah, atau berkubang di tepi hutan jati. Sering kali kerbau-kerbau itu tidak pulang ke kandang. Artinya, mereka tidur di hutan atau sedang berahi pada pejantan milik tetangga di sana. Pernah tedadi kerbau Mbok Sum tiga hari tidak pulang. Pada hari keempat binatang itu muncul bersama anaknya yang baru lahir di tengah hutan. Pada waktu itu masih banyak harimau Jawa berkeliaran di hutan jati Cibalak. Tetapi binatang buas itu lebih suka menerkam monyet atau lutung, apalagi celeng pun masih banyak terdapat di sana.
Sekarang terowongan di bawah belukar puyengan itu lenyap, berubah menjadi jalan setapak. Tak terdengar lagi suara korakan kerbau karena binatang itu telah banyak diangkut ke kota, dan di sana akan diolah menjadi daging goreng atau makanan anjing. Di sekitar kaki Bukit Cibalak, tenaga kerbau telah digantikan traktor-traktor tangan. Burung-burung kucica yang telah turun-temurun mendaulat belukar puyengan itu terpaksa hijrah ke semak-semak kerontang yang menjadi batas antara Bukit Cibalak dan Desa Tanggir di kakinya. Orang-orang yang biasa memburuh dengan bajak, kemudian berganti pekerjaan. Pak Danu misalnya, yang dulu dikagumi orang karena kecakapannya memainkan bajak, kini bekerja pada Akiat. Ia menjadi tukang timbang ampas singkong. Gajinya berupa makanan yang ia terima pada hari itu plus sedikit uang. Dua orang anak gadis Pak Danu dibawa oleh makelar, menjadi babu di Jakarta, empat ratus kilometer jauhnya dari Desa Tanggir.
0

Ahmad Tohari - Bekisar Merah

Ahmad Tohari - Bekisar Merah
Ahmad Tohari - Bekisar Merah
Dari balik tirai hujan sore hari pohon-pohon kelapa di
seberang lembah itu seperti perawan mandi basah; segar,
penuh gairah, dan daya hidup. Pelepah-pelepah yang kuyup
adalah rambut basah yang tergerai dan jatuh di belahan
punggung. Batang-batang yang ramping dan meliuk-liuk oleh
embusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang
tenang dan penuh pesona. Ketika angin tiba-tiba bertiup lebih
kencang pelepah-pelepah itu serempak terjulur sejajar satu
arah, seperti tangan-tangan penari yang mengikuti irama
hujan, seperti gadis-gadis tanggung berbanjar dan bergurau di
bawah curah pancuran.
Pohon-pohon kelapa itu tumbuh di tanah lereng di antara
pepohonan lain yang rapat dan rimbun. Kemiringan lereng
membuat pemandangan seberang lembah itu seperti lukisan
alam gaya klasik Bali yang terpapar di dinding langit. Selain
pohon kelapa yang memberi kesan lembut, batang sengon
yang lurus dan langsing menjadi garis-garis tegak berwarna
putih dan kuat. Ada beberapa pohon aren dengan daun
mudanya yang mulai mekar; kuning dan segar. Ada pucuk
pohon jengkol yang berwarna coklat kemerahan, ada bunga
bungur yang ungu berdekatan dengan pohon dadap dengan
kembangnya yang benar-benar merah. Dan batang-batang
jambe rowe, sejenis pinang dengan buahnya yang bulat dan
lebih besar, memberi kesan purba pada lukisan yang terpajang
di sana.
0

Agnes Jessica - Piano di Kotak Kaca

Agnes Jessica - Piano di Kotak Kaca
Agnes Jessica - Piano di Kotak Kaca
"CERAIKAN saja aku, ceraikan!!!"
Plakkk! Terdengar suara perempuan menangis lalu terdengar suara benda jatuh.
"Kau pikir aku tidak mau? Ya, kita cerai saja!"

Sheila menutup kupingnya dengan tangan erat-erat. Matanya terpejam lalu dari sela-sela bulu
matanya mengalir air mata. Selalu begini tiap hari. Apa mereka tidak memikirkannya?
Pernahkah mereka memikirkannya barang sebentar? Pernahkah mereka berpikir bahwa ini
menyakitkan? Suara-suara ribut seperti ini bagai mengimpit jiwanya sampai ia mau mati rasanya.

Itu suara pertengkaran orangtuanya. Sheila cuma remaja yang berusia lima belas tahun yang
mestinya belum mengerti apa-apa. Satu-satunya yang dapat ia pelajari dari hubungan ayah dan
ibunya hanyalah perselisihan. Bisa saja ibunya berdalih bahwa ia terlalu muda ketika ia menikah
dengan ayahnya dulu, baru genap tujuh belas tahun usianya. Bisa saja ayahnya berdalih bahwa ia
salah memilih istri, yang selalu membuat marah suami. Tapi apakah mereka pernah berpikir
bahwa pernikahan mereka telah melahirkan dirinya? Lalu apa dirinya? Ia pasti bukan buah cinta
seperti yang di sebut-sebut pemain sinetron ketika menyebut anak. Ia adalah buah dari hubungan
yang tak diharapkan, hubungan tanpa cinta.

"Aaaaaaa!!!!" terdengar teriakan lagi.
Sheila mengetatkan lagi telapak tangannya di telinga, tapi suara-suara itu masih saja terdengar.
Itu pasti suara ibunya, berteriak karena dipukul ayahnya. Mereka bahkan tak pernah mencoba
untuk membuat pertengkaran ini tak didengarnya.
0

Agnes Davonar - Surat Kecil Untuk Tuhan

Agnes Davonar - Surat Kecil Untuk Tuhan
Agnes Davonar - Surat Kecil Untuk Tuhan
ISTANA DALAM DUNIA KECILKU

Suara kicau burung di pagi hari, terdengar menembus langit-langit
kamarku. Aku masih terbaring malas untuk bangun. Namun sepertinya
matahari mulai marah padaku, karena masih saja Aku menutup mataku.
Cahaya matahari pagi itu mulai menyentuh seluruh isi ruangan di kamarku
yang cukup besar. Akhirnya, Aku mengalah pada alam dan Aku harus bangun,
inikah hari dimana Aku mulai harus sekolah.
Uohhhh.... teriakku sambil menguap.

Hai sobat, kenalkan namaku Gitta Sessa Wanda Cantika. Terlalu
panjang ya.. ok! Biar gampang sebut saja namaku Keke. Aku anak ke-tiga dari
tiga saudara. Aku mempunyai dua kakak laki-laki, namanya juga dipersingkat
saja. Panggil mereka Koko dan Kiki. Koko, kakak tertuaku sekarang telah
menikah dan memberikan Aku seorang keponakan imut dan lucu, sedangkan
Kiki, kakakku ke-dua sibuk dengan kerajaan pendidikan dia. Anaknya rajin
dan pandai sekali. Terkadang setiap aku mengalami kesusahan dalam
pelajaran sekolah. Dia yang terdepan menjadi guru privatku.

Keluarga kami keluarga yang bahagia, walau Ibu dan Ayah telah
bercerai namun hubungan masih terjalin dengan baik. Aku dan kedua
kakakku tinggal bersama Ayah. Ops.. tak lupa kukenalkan pahlawan dalam
keluarga kami. Dia ini ada raja dari istana kami. Ayahku, teman sekaligus
pacarku.. Lucu ya.. Eits jangan salah paham ya! Habis, Ayah walau sudah
berumur tampang boleh dibilang tidaa jauh dari Tau Ming Se, bintang F-4
asal Taiwan itu loh..
0

Adeliany Azfar - Kamu Kenangan tentang Luka dan Cinta

Adeliany Azfar - Kamu Kenangan tentang Luka dan Cinta
Adeliany Azfar - Kamu Kenangan tentang Luka dan Cinta
Pada musim dingin kala itu, kau genggam erat jemariku. Hangat meresap sampai ke dalam hatiku—mengingatkanku pada satu masa bahagia yang pernah kurasa dulu, dan aku pun jatuh cinta. Tapi, aku tahu, cerita kita hanyalah kisah yang direka, tak akan mewujud nyata. Aku yang salah membiarkan diriku jatuh begitu mudah, dalam pesonamu.

Kukemasi rindu dan harap ini. Tak ada tempat untukku dalam kisahmu.
Kau dan dia, telah lama saling berbagi hari bahagia bersama. Hangat pelukmu hanyalah untuknya.

Aku hanyalah sebuah jeda dalam napasmu, sementara dia adalah udara yang kau hirup dalam setiap hela. Aku putuskan untuk berhenti berharap, dan aku tahu bahwa luka akan mendewasakanku.

Namun, kadang malam membuatku meragu dan kembali bertanya, benarkah dirimulah cinta yang selama ini kucari sepanjang waktu? Kau, berilah aku isyarat. Satu kali lagi saja….
0

Abbi Glines - Fallen Too Far

Abbi Glines - Fallen Too Far
Abbi Glines - Fallen Too Far
Truk bercampur lumpur pada ban yang kupakai telah kuparkir di
samping rumah yang sedang berpesta itu. Tidak ada mobil buatan
luar negeri mahal disini. Tempat ini paling tidak memuat setidaknya
dua puluh mobil yang menutupi sepanjang jalan masuk. Aku
memarkir truk Ford tua berusia lima belas tahun milik Ibuku di
lapangan berumput, jadi aku tidak akan menghalangi siapa pun.
Ayah tidak bilang padaku bahwa malam ini dia akan mengadakan
pesta. Dia tidak bicara banyak padaku.

Dia juga tidak hadir pada pemakaman Ibu. Jika aku tidak butuh
tempat tinggal, aku tidak mau berada disini. Aku sudah menjual
rumah mungil yang ditinggalkan Nenekku untuk membayar tagihan
akhir dari biaya pengobatan ibu. Yang tersisa hanyalah bajuku dan
truk. Menelpon Ayahku, setelah dia tidak pernah datang walau hanya
sekali selama tiga tahun Ibuku berjuang melawan penyakit
kankernya, sangatlah berat. Meskipun ini juga penting, karena dialah
satu-satunya keluarga yang aku miliki.

Aku menatap pada rumah besar tiga lantai yang mengarah langsung
pada pasir putih di pantai Rosemary, Florida. Ini adalah rumah baru
Ayahku. Keluarga barunya. Aku tidak cocok hidup disini.
Pintu trukku tiba-tiba terbuka. Dengan spontan, aku meraih ke
bawah kursi dan mengambil pistol sembilan millimeterku. Aku
mengayunkannya dan mengarahkannya pada penyusup itu,
memegang senjata itu dengan kedua tanganku siap untuk menarik
pelatuknya.
0

Lupus Returns - Cewek Junkies

Lupus Returns - Cewek Junkies
Lupus Returns - Cewek Junkies
Nah, ceritanya di sini Lupus bete banget abis diputusin ceweknya. Padahal dia udah mencintai dengan sepenuh hati, tapi tetep aja diputusin dengan alasan: Lupus udah basi. Udah nggak zaman. Hare gene masih pake jambul Duran Duran. Padahal kan sekarang kan udah zamannya Justin Timberlake! Lupus yang semula periang, ceria, jadi berubah manyun terus. Setengah mati ketiga sahabatnya mengembalikan Lupus supaya bisa asyik seperti dulu lagi, tapi nggak sukses juga. Sampe suatu ketika, pas lagi menyepi jalan-jalan sendirian di tepi danau, Lupus terpesona melihat seorang cewek yang lagi mandi di telaga, dengan rambut berkilau dan kulit kuning berpendar-pendar terkena bias matahari. Lupus terkesima, seakan berada dalam kisah legenda Jaka Tarub.

Tapi apakah yang kemudian terjadi? Siapakah gadis yang langsung jutek ketika ketauan diintipin Lupus dan berniat bales dendam? Wah, ceritanya jadi makin seru nih. Apalagi ternyata tu cewek punya masa lalu yang bikin Lupus merinding.
0

Lupus Kecil - Terserang si Ehem

Lupus Kecil - Terserang si Ehem
Lupus Kecil - Terserang si Ehem
LUPUS terserang si ehem. Gara-garanya waktu pulang sekolah ujan-ujanan, dan dasar badan Cuma seuprit, jadinya ya keserang flu yang bercampur batuk-batuk kecil, serta tenggorokan gatal-gatal.

"Kamu terserang dsi ehem, ya?" tanya Mami.
 "Iya,Mi, "jawab Lupus sambil berehem-ehem.
"Mau yang hangat-hangat dan manis?"
"Mau, Mi!"
"kompor tuh digulain! Hihihi!"

Makanya kalo badan cuma seuprit jangan sok main ujan-ujanan. Nanti kalo sakit kayak Lupus, jadinya nggak bisa ngapa-ngapain. Yang ada cuma tidur-tiduran doang.

Selain 'Terserang si Ehem', kamu bisa ikuti juga kisah-kisah Lupus yang menarik lainnya. Seperti cerita waktu Lupus terima rapot, maminya disuruh dandan kece
".Sekece apa, Pus?" tanya Mami.
"Sekece...mplung sumur,Mi!" jawab Lupus cuek. Juga ada cerita lucu tentang Lulu dan Papi.
"Coba kamu sebutkan dua contoh binatang memamah biak!" kata Papi pada Lulu.
"Sapi!" jawab Lulu tangkas.
"Satunya lagi?" desak Papi.
"Anaknya sapi...!"Eh, cepet deh kami bawa buku ini ke kasir, dan kemudian kamu bawa pulang!
0

Lupus 24- Boneka di Taman Sekolah

Lupus 24- Boneka di Taman Sekolah
Lupus 24- Boneka di Taman Sekolah
Boneka di Taman Sekolah adalah buku seri Lupus yang ke 24 (Lupus Milenia 1) karya Hilman Hariwijaya dan diterbitkan pertama kali pada bulan Februari 2001. Buku ini ditulis oleh Hilman yang terbagi menjadi 7 cerita lepas. Untuk gambar ilustrasi dibuat oleh Wedha dan Adi Darwis.

Mengisahkan tentang Lupus yang telah ditinggal Poppy, bertemu dengan Happy, teman masa kecilnya yang dahuli gemuk kini berubha menjadi gadis cantik. Happy menjadi adik kelas Lupus (Happy tidak naik kelas disaat kelas 5 SD dan ia pindah sekolah). Lupus dan Adi bertaruh untuk menjadikan Happy sebagai kekasih.
0

Lupus 23- Candle Light Dinner

Lupus 23- Candle Light Dinner
Lupus 23- Candle Light Dinner
Ini bagian terakhir dari trilogi Lupus. Dan ini yang paling seru, karena di sini ketahuan bahwa Rainbow akhirnya berselingkuh, dan langsung diputusin sama Poppi. Dan selama Poppi frustrasi, Lupus-lah yang setia menemani dan menghiburnya. Sampai ngajak liburan ke Carita segala. Tujuan Lupus cuma satu, merebut kembali cinta Poppi. Tapi sayangnya, Poppi ternyata masih trauma sama cowok, hingga dia tidak gampang begitu saja menerima cinta Lupus.

Bukan Lupus namanya kalau baru gitu aja sudah nyerah. Sayangnya, begitu mereka jadian, di saat ulang tahun Poppi, Poppi ternyata malah jalan sama Rainbow. Kecewalah Lupus. Tapi itu sebetulnya hanya salah pengertian aja. Rainbow yang menyesal udah putus sama Poppi, pengin jalan untuk terakhir kalinya di ultah Poppi.

Bagaimana Poppi bisa menjelaskan ini ke Lupus?

Kenapa Poppi harus bohong?

Bagaimana Poppi bisa jadian sama Lupus lagi?

Ini mungkin salah satu buku Lupus yang paling romantis dan mengharukan.
0

Lupus 22- Bunga Untuk Poppy

Lupus 22- Bunga Untuk Poppy
Lupus 22- Bunga Untuk Poppy
Raibow memang berhasil merebut Popyy dari Lupus. Tapi itu ternyata nggak membuat cinta Lupus padam. Dan pembelaan Lupus kepada Mr. Punk yang didemo anak-anak agar lengser dari jabatannya sebagai guru, membuat kredit Lupus di mata Poppi makin nambah. Tapi apakah Lupus akhirnya berhasil merebut hati Poppy?

Buku ini memang bagian kedua Trilogi : Boys Don't Cry, Bunga Untuk Poppi, dan Candlelight Dinner. Nggak cuma cerita cinta Lupus dan Poppi, ada juga cerita Fifi Alone yang naksir guru sofbol, ada juga usaha Boim dan Gusur untuk mempersatukan Poppi dengan Lupus kembali tapi gagal melulu, dan rahasia terbesar Oasa, musuh bebuyutan Lulu di SMP Elite.
0

Lupus 21- Boys Dont Cry

Lupus 21- Boys Dont Cry
Lupus 21- Boys Dont Cry
Meski Lupus anaknya itu konyol, tapi dalam soal cinta ternyata dia bisa romantis juga. Mengikuti lika-liku cintanya dengan Poppi, perasaan kita pun jadi haru-biru. Poppi memang cinta pertama, bahkan mungkin cinta abadinya Lupus.

Kalau kamu ikuti trilogi ini Boys Don't Cry, Bunga untuk Poppi dan Candlelight Dinner, kamu akan melihat sisi-sisi lain dari kisah-kisah Lupus. Tetap konyol, tetapi romantis. Tetap seru, tapi bisa membuat air mata menitik.

Mungkin baru kali ini kamu tau, gimana kelabakannya Lupus dibakar api cemburu ketika muncul tokoh baru, Rainbow, sang ketua Osis, yang mendapat julukan Mr. Wondelful. Dia mampu mengalihkan perhatian Poppi dari Lupus. Selain Rainbow, muncul juga tokoh Trixie, yang hubungannya dengan Lupus berakhir tragis.

Singkatnya, ini memang cerita cinta. Karena, remaja mana sih yang nggak pernah terlibat masalah cinta? Lupus kan remaja kayak kamu juga, yang kadang dibikin repot oleh urusan cinta.
0

Lupus 20- Serem

Lupus 20- Serem
Lupus 20- Serem
Ternyata jadi anak kocak dan selalu riang kayak si Lupus itu bisa punya musuh juga. Dan musuhnya punya target nggak main-main. Dia mau ngebunuh Lupus!!! Gila, horor nggak sih? Tapi kenapa si Lupus yang doyan bikin orang ketawa itu malah mau dibunuh? Apa sih salah dia? Dan siapa yang mau ngebunuh Lupus?

Wah, kamu kudu baca cerita “komedi horor” yang satu ini. Yang nggak kalah dari film SCREAM yang heboh di bioskop itu. Nggak itu aja. Ada juga cerita Lupus yang mau dijodohkan ama anak temennya Mami, ada kisah romantis Inka yang ngirim surat cinta ke Bule, ada kejadian heboh Lulu yang dititipin anak kecil yang bandelnya amit-amit, atau Lupus yang tiba-tiba jadi maniak joget dangdut gara-gara disuruh ngewawancarai penyanyi dangdut yang superseksi. Terakhir, ada juga ending story yang menguras air mata, kisah perpisahan dua anak remaja. Siapa tuh? Baca deh buruan!
0

Abbi Glines - Never Too Far

Abbi Glines - Never Too Far
Abbi Glines - Never Too Far
Rush memegang rahasia yang menghancurkan dunianya. Segala

sesuatu yang ia tahu tidak lagi benar.

Blaire tidak bisa berhenti mencintainya tapi ia juga tahu bahwa ia
tidak akan pernah bisa memaafkannya. Sekarang ia kembali ke
kampung halaman dan belajar untuk hidup lagi. Melanjutkan
hidup...sampai sesuatu terjadi dan membuat dunianya berputar

sekali lagi.

Apa yang akan kalian lakukan ketika orang yang paling tidak ingin
kalian percaya adalah orang yang begitu ingin kalian percaya?
Kalian akan berdusta, sembunyi, menghindar, dan berdoa agar

dosa-dosa kalian tidak akan pernah terungkap.

Never Too Far dimulai segera setelah Fallen Too Far berakhir, Blaire
pulang ke Alabama dalam keadaan hancur setelah menemukan fakta
di balik rahasia kebencian Nan terhadap dirinya, dia juga mendapati
kalau dirinya hamil. Tanpa keluarga dan tanpa uang, dia
memutuskan untuk kembali ke Rosemary dan tinggal dengan
sahabatnya Bethy dan memutuskan kembali bekerja di clubhouse,
sehingga ia dapat menabung untuk memulai hidup baru di suatu
tempat bersama bayinya.
0

Lupus 18- Kutukan Bintik Merah

Lupus 18- Kutukan Bintik Merah
Lupus 18- Kutukan Bintik Merah
Gara-gara nggak percaya sama ramalan Hockus Pockus, tiba-tiba aja Lupus kena kutuk. Hari-harinya penuh kesialan, sampai akhirnya wajahnya dipenuhi bintik-bintik merah, Ih, padahal biasanya Lupus punya jerawat satuu aja ributnya bukan main. Gimana juga kalau bintiknya banyak?

Tapi Lupus nggak yakin itu karena kutukan. Lupus ngerasa ia cuma sial aja. Sama seperti dua sahabatnya Boim dan Gusur, yang udah berjanji dengan darah bahwa mereka temenan sampai mati, tiba-tiba gara-gara beredar foto "polos"-nya Boim, mereka jadi berseteru hebat.

Apa ini juga karena kutukan? Gimana juga nasib Lulu yang dijanjikan rekaman di Bandung dan udah ngabisin duit jutaan rupiah? Belum lagi gara-gara krismon yang membuat anak-anak dipecat dari Kafe Mila.Apakah ini semua kutukan? Jangan percaya dulu sebelum membaca. Makin lama cerita Lupus ini memang makin heboh, man!!!
0

Lupus 17- The Lost Boy - Salah Culik

Lupus 17- The Lost Boy - Salah Culik
Lupus 17- The Lost Boy - Salah Culik
0